Gempa bumi menghilangkan ayahku penulis Rike Setiani Nur Fadillah
Saat itu tahun 2008, umurku masih 16 tahun. Aku duduk dibangku 2 SMA bersamaan dengan kakakku karena kami kembar. Daerahku sudah terkenal dengan rawan gempa karena pulau Sumatera Barat berada di antara pertemuan dua lempeng benua besar (lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia) dan patahan (sesar) Semangko. Di dekat pertemuan lempeng terdapat patahan Mentawal. Ketiganya merupakan daerah seismik aktif. Menurut catatan ahli gempa wilayah Sumatera Barat memiliki siklus 200 tahunan gempa besar yang pada awal abad ke-21 telah memasuki masa berulangnya siklus.
Di Padang atau yang biasa dikenal dengan Minang aku dan teman - temanku yang lain sering memainkan permainan sepak tekong. Sepak tekong sendiri merupakan permainan petak umpet khas minang. Sepak artinya berlari sepak dan tekong berarti kaleng. Permainan ini sama seperti petak umpet pada umumnya. Akan ada kaleng yang diletakkan ditengah lingkaran dan penjaga akan mencari teman-temannya yang bersembunyi.
Gempa berskala kecil pernah terjadi disaat aku bermain bersama teman – temanku yang menyebabkan sebelah kakiku tertancap paku cukup dalam karena aku tidak sengaja menginjaknya saat ingin berlari ke tengah lapang. Disitu aku berteriak sekencang-kencangnya karena tidak kuat menahan sakit. Ibuku datang menghampiri dan mebawaku ke tempat yang terbuka, untuk saja goncangan gempanya tidak lama.
Aku langsung dibawa ke klinik terdekat agar paku yang menancap di kakiku bisa segera dicabut. Akupun meremas seprai kuat-kuat saat dokter sedang mulai mencabut pakunya. Aku berteriak “AKHHH! Sakit” , Dokter pun segera menenangkan diriku. Keringat pun bercucuran karena paku yang menancap cukup dalam untunglah dokter berhasil mencabutnya.
Setelah kejadian itu aku libur sekolah selama beberapa minggu sampai keadaan kakiku membaik, dari dulu gempa di daerahku memang sering terjadi. Mulai dari gempa berskala kecil, gempa berskala sedang, bahkan gempa berskala besar. Semua gempa itu merobohkan fasilitas, bahkan memakan korban. Kami selalu waspada, tapi tetap saja jika musibah itu datang, kami tidak bisa menghentikannya.
Beberapa bulan kemudian kakiku sudah sembuh seperti sediakala aku diajak mengunjungi nenekku karena beliau merindukan keluarga kami dan cucu beliau hanya aku dan kakakku saja. Perjalanan ke rumah nenek memakan waktu 5 jam karena kota kami tidak begitu jauh. Disana aku menceritakan tentang kejadian gempa yang aku alami dan menyebabkan celaka pada kakiku. Nenekku langsung mengelus – ngelus kakinya. Beliau khawatir pada cucu kesayangannya.
Di rumah nenek sangat asri dan tentram bahkan setiap pagi aku selalu berjalan – jalan keluar rumah untuk mencari udara segar. Aku nyaman menginap di sini tapi keluarga tinggal di kota yang bersebrangan dengan nenekku. Aku juga sangat nyaman tinggal di Padang hanya saja selalu datang gempa tidak diundang yang menyebabkan orang – orang bisa terluka secara tidak sengaja karena panik mencari tengah lapang.
Jika dipikir – pikir Padang mungkin daerah yang sering terjadi gempa secara tiba - tiba. Aku sering melihat beritanya di televisi bahkan di koran ayahku. Aku juga sering melihat cerita bencana alam lewat google dan Padang ada di pencarian teratas. Meskipun begitu Padang tetap tempat lahirku. Aku lahir dan dibesarkan disini, bagaimanapun keadaannya aku harus bisa menerimanya. Semua pasti ada jalan keluar asal kita harus waspada dan berhati – hati tidak lupa untuk selalu berdoa kepada Allah SWT. agar selalu diberikan keselamatan oleh-Nya.
Nenek meminta kami untuk tinggal bersamanya namun ibu menolaknya. Bukan karena ingin meninggalkannya sendiri tapi keluarga kami punya usaha di Padang yang harus dipantau dengan jarak dekat jadi tidak akan mungkin bisa ditinggalkan begitu saja. Aku dan kakakku juga sudah kelas akhir jika pindah sekolah akan keluar biaya lagi sedangkan kami sekolah hanya tinggal 1 tahun saja. Ayah juga mempunyai sawah yang harus diurus agar tidak kering dan padinya bisa tumbuh dan menghasilkan beras yang bisa dijual.
Akhir tahun kami pulang dari rumah nenek. Kami tidak sempat merayakan tahun baru disana karena ibuku mendapatkan kabar bahwa Padang mengalami gempa berskala sedang yang menyebabkan dinding sebelah kiri rumah makan miliknya roboh dan harus segera diperbaiki agar rumah makannya bisa beroperasi kembali. Mendengar kabar buruk itu ibuku menyuruh agar rumah makannya ditutup sebagai masa perbaikan. Ibu langsung meminta izin pada nenek untuk pamit pulang ke Padang. Nenek menolaknya, “nanti saja, aku sendiri sini, sepi.” Nenek menahan keluarga kami tapi ibu berjanji, kami akan sering mengunjunginya kesini.
Setelah sampai di Padang ibu langsung mengecek keadaan rumah makannya bersama kakakku. Aku dan ayah memutuskan untuk pulang duluan ke rumah. Aku menurunkan barang – barang dari mobil dan bergegas masuk ke kamar untuk memisahkan pakaian kotor dan pakaian bersih. Saat aku hendak menuju mesin cuci, tempat sabun yang berada diatas tiba – tiba terjatuh dan kaca pun bergetar. Ayah berteriak menyuruhku untuk keluar rumah. Kami mencari tempat yang luas dan jauh dari jangkauan benda – benda yang mudah ambruk. Syukurlah tidak ada korban jiwa dalam gempa kali ini.
Tahun 2008 pun terlewati, banyak hal – hal yang aku alami termasuk merasakan gempa beberapa kali sepanjang tahun 2008. Aku berharap tahun 2009 ini kedatangan gempa tidak sesering tahun 2008.
Beberapa bulan telah ku lalui dan benar saja kali ini aku tidak merasakan gempa yang cukup sering. Aku harap keadaan ini akan berlangsung dalam waktu yang lama. Pertengahan bulan agustus nenek meneleponku karena beliau menagih janji ibu yang katanya akan sering mengunjunginya. Tapi ibu lupa sampai setengah taun tidak datang kesana karena sibuk mengurus usahanya disini. Kami memutuskan untuk berangkat besok pagi setelah nenek menelepon kam.
Di pagi hari kakak sudah menyiapkan baju yang akan dibawa untuk menginap di rumah nenek. Aku dan ibu memasak untuk sarapan. Ayah tidak ikut karena sedang mengurus sawahnya mungkin ayah akan menengok nenek saat beliau menjemput saja. Untung saja ibuku bisa mobil walaupun mengemudikannya tidak selancar ayahku. Sesudah sarapan kami bertiga pamit untuk pergi. Perjalanan menghabiskan waktu 8 jam untuk sampai di rumah nenek. Nenek menyambut cucunya dengan senyuman kebahagiaan yang terlukis di bibirnya, aku dan kakak langsung memeluk erat dan mengajak nenek masuk ke dalam tak lupa untuk membantu ibu menurunkan cemilan dan barang bawaan.
Satu bulan kami menginap rasanya berat sekali untuk meninggalkan nenek sendirian tapi aku juga merindukan ayahku. Ayah menjemput kami saat akhir bulan september tepat pada tanggal 30 pagi hari. Tiba – tiba nenek jatuh sakit akhirnya aku dan ayahku lah yang memutuskan untuk pulang terlebih dahulu karena aku disuruh untuk membersihkan rumah. Dalam satu bulan ini ayah tidak sempat membersihkan rumah karena sibuk bertani. Aku dan ayah berpamitan dan mendoakan semoga nenek diberikan kesembuhan dan penyakitnya bisa segera diangkat oleh Allah.
Aku bercerita pada ayahku saat menginap di rumah nenek. Ayahku pun menjawab, “enak ya kalian di sana, ayah ditinggal sendiri gaada yang masakin.” Aku pun tertawa mendengarnya.
Kami sampai di rumah pukul 5 sore aku langsung membantu ayah menurunkan koper dari mobil. Aku membawa semua tas dan koper ke kamarku. Aku mulai merapikan baju bersihku di lemari dan memisahkan baju yang kotor. Tiba – tiba saja tubuhku digoncang sangat kuat bahkan lemariku hampir terjatuh. Sontak aku terkejut dan langsung berlari keluar rumah tanpa membawa apapun hanya hp saja yang terselip disaku celananya.
Aku berteriak sangat kencang untuk memanggil ayahku yang masih terjebak di dalam rumah. Atap depan rumahku roboh menghilangi pintu keluar badanku terseret kesana kemari karena banyaknya warga berlarian sampai tidak memerhatikan jalan dan menabrak – nabrak tubuhku. Aku pun mulai terseret menjauhi rumah dan meninggalkan ayah di dalamnya.
Bagiku Gempa Bumi 30 Septermber 2009 merupakan gempa terkencang yang ku alami. Gempa berskala besar yang pernah ku rasakan. Gempa dengan kekuatan 7,6 Skala Richter pada jam 17:16:10 ini terjadi di lepas pantai Sumatera, sekitar 50km barat laut Kota Padang.
Saat gempa berakhir aku dan warga yang lain berada di tempat evakuasi. Rumahku hancur, rata dengan tanah, dan ayahku dikabarkan menghilang. Aku langsung menangis histeris dan memberi tahu berita buruk ini pada ibukku. Menurut data Satkorlak PB sebanyak 135.448 rumah rusak berat, 65.380 rumah rusak sedang, dan 78.604 rumah rusak ringan. Sedangkan 1.117 orang tewas akibat gempa, korban luka berat mencapai 1.214 orang, luka ringan 1.688 orang, dan korban hilang 1 orang.
Gempa menyebabkan kerusakan parah di beberapa wilayah di Sumatera Barat seperti Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Agam, Kota Solok dan Kabupaten Pasaman Barat.
Kata temanku guncangan gempa bumi di Sumatera Barrat tersebut terasa sampai ke Singapura, Malaysia, Thailand dan juga di Jakarta dengan intensitas II MMI. Melihat hasil peta guncangan (shakemap) yang diakibatkan oleh gempa bumi tanggal 30 September 2009, maka intensitas guncangan gempa yang sangat kuat terjadi di Pariaman, Agam, Padang dengan intensitas VIII MMI, berdasarkan skala Modified Mercalli Intensity merupakan skala ukuran kerusakan akibat gempa bumi berdasarkan pengamatan efek gempa bumi terhadap manusia, struktur bangunan, lingkungan pada suatu tempat tertentu maka intensitas pada skala VIII MMI ini dapat menyebabkan kerusakan pada bangunan yang tidak kuat , kerusakan ringan pada bangunan-bangunan dengan konstruksi yang kuat, retak-retak pada bangunan yang kuat, dinding dapat terlepas dari kerangka rumah.
Gedung - gedung kantor, sekolah, rumah sakit, tempat ibadah, pasar, jalan, jembatan dengan kerusakan paling parah sepanjang pantai Barat Sumatera Barat juga telah menyebabkan jaringan listrik dan komunikasi terputus, sebagian besar korban disebabkan karena tertimpa reruntuhan bangunan dikarenakan kontruksi bangunan yang tidak aman.
30 September 2009 adalah hari yang paling memilukan bagi Kota Padang karena terkena musiban guncangan gempa bumi yang sangat kuat. Aku tidak berhenti menangis karena sampai saat ini aku belum bisa menemukan ayahku. Aku rindu. Tapi keadaannya pun aku tidak mengetahuinya. Aku selalu bertanya – tanya dalam hati, “ayahku pergi kemana ya kira – kira.. huft” aku merindukannya, sangat. Apalagi ibu dan kakak, pastinya mereka sangat sedih mendengar kabar ayah menghilang dan tidak ditemukan.
Berdasarkan katalog gempa bumi merusak BMKG, ketiga sumber gempa bumi di Sumatera tersebut, baik gempa bumi yang terjadi di Subduksi, sesar Mentawai dan sesar Sumatera telah menyebabkan kerusakan bangunan dan juga korban jiwa, yaitu dimulai pada tahun 1926 gempa bumi terjadi disekitar danau Singkarak yang menyebabkan 354 orang meninggal dunia, kejadian gempabumi selanjutnya berturut-turut terjadi pada tahun 1977, 1979, 1993, 1994, 1995, 1998, 2004, 2005, 2007, 2008, 2009 dan 2010. Beberapa gempabumi tersebut disamping menyebabkan kerusakan bangunan juga menimbulkan tsunami.
Aku pikir permintaanku terkabulkan, ternyata tidak malah gempa kali ini lebih kencang dari yang sebelum – sebelumnya. Aku duduk diam di tempat pengungsian karena aku tidak mempunyai lagi tempat bernaung. Ibu dan kakakku tidak bisa pulang karena jalannya tertutup reruntuhan. Beberapa minggu kemudian ibu dan kakak pulang sambil memelukku mereka menanyakan kabar dan keadaanku sesudah gempa terjadi. Alhamdulillah aku selamat dari gempa hanya saja ayah menghilang ntah kemana.
Tempat usaha ibu juga hancur hanya batu – batuan yang tersisa. Banyak sekali korban dan bangunan yang rusak bahkan setiap orang bisa rugi jutaan rupiah karena harta benda yang tidak terselamatkan.
Kami masih berdiam diri di tempat pengungsian sampai reruntuhan yang menghalangi jalan berhasil disingkirkan. Kurang lebih 3 minggu kami di tempat pengungsian akhirnya tim evakuasi mengizinkan kami untuk pulang ke rumah. Tapi rumahku masuk ke daftar bangunan yang rusak berat, tidak ada yang bisa diselamatkan selain membangun ulang. Untung saja ibu masih mempunyai simpanan di bank yang bisa digunakan untuk membangun rumah meskipun sederhana.
Setelah beberapa hari kami mulai membangun ulang rumah walaupun tanpa ayah. Kami masih mencarinya dan berharap bahwa Allah akan menemukan kami kembali dengan beliau. Satu bulan membangun rumah akhirnya selesai. Ibu memilih rumah yang kecil karena katanya dalam waktu dekat akan ada gempa susulan yang akan menghadang daerahku tapi tidak dipastikan bahwa itu benar atau tidaknya.
Ingatan tentang peristiwa itu masih terus berkeliaran dipikiranku. Terutama tentang ayah. Aku punya banyak pertanyaan setelah kejadian itu. Mengapa ayah tidak berlari bersamaku? Mengapa ayah menyuruhku untuk berlari sendirian? Aku kesal, aku marah. Tetapi aku tidak bisa untuk meluapkannya.
Tiga bulan setelah peristiwa itu, kami masih terus menerus mencari ayah. Walaupun memang hanya sebutir harapan untuk mendapat kabar bahwa ayah masih ada didunia ini, setidaknya ayah kami berhasil ditemukan. Kami rindu akan canda dan tawa ayah. Hidup ini terasa lebih berat tanpa kehadiran ayah. Ibu tak pernah mengeluh saat mencari penghasilan untuk makan sehari-hari dan membiayai sekolahku. Ibu selalu memberi senyuman sebelum berangkat bekerja.
Umur ibu sudah tidak tergolong muda lagi. Tubuhnya yang lambat laun akan membungkuk pun hingga kini masih giat untuk bekerja. Ya, itu semua demi kehidupan kami. Kehidupan yang kami jalani tanpa kehadiran seorang ayah. Sejujurnya, aku ingin sekali bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aku ingin bekerja sebagai apa saja yang terpenting bisa meringankan beban ibuku. Sayangnya, ibuku tidak memberikan izin untuk bekerja, beliau menyuruhku untuk fokus sekolah saja.
Seiring berjalannya waktu, aku pun mulai mengikhlaskan kepergian ayah. Tetapi di lubuk hatiku, aku sangat merindukannya. Hati ini rasanya sangat sakit ketika aku mengingat kembali kejadian yang menimpa keluargaku sewaktu itu. Walaupun aku merasakan kesedihan yang amat dalam, hal itu tidak membuatku menjadi orang yang malas untuk menuntut ilmu. Waktu luang ku gunakan untuk belajar. Ya, tiada hari tanpa belajar.
Kata orang, belajar itu membosankan? Jawabannya benar. Tetapi tidak selalu membosankan jika kita tau bagaimana caranya untuk membuat kegiatan belajar tersebut menjadi menyenangkan dan mudah dipahami. Sekarang, aku sudah memasuki pendidikan di jenjang kuliah. Aku mengambil jurusan teknik geofisika. Yang dimana, teknik geofisika adalah ilmu yang mempelajari aspek-aspek fisik bumi dan gejala-gejala alam.
Jika kalian bertanya apa alasanku mengambil jurusan itu, karena aku sedikit mengalami trauma dengan kejadian gempa bumi yang menghilangkan nyawa ayahku. Aku ingin mempelajari bumi lebih dalam lagi, mempelajari apa saja gejala-gejala dan bencana alam yang akan terjadi, sekaligus mengetahui apa saja tindakan yang harus dilakukan jika peristiwa gempa bumi itu terjadi kembali. Semua itu aku lakukan agar tidak kehilangan orang yang aku sayangi, lagi. Aku tau semuanya sudah diatur oleh Tuhan. Tetapi, aku hanya seorang manusia yang hanya bisa berusaha dan berdoa.
Ayah, terimakasih sudah merawat dan membimbing-ku sejak kecil. Aku tau ayah selalu ada disamping-ku. Doakan aku terus ya, yah? Doakan agar anakmu ini sukses dan bisa mengangkat keluarga. Aku dan ibu akan selalu mendoakan ayah. Aku sayang ayah.
Ceritanya tidak membosankan dan menarik untuk dibaca karena alur yang disajikan membuat penasaran para pembacanya.
BalasHapuskeren mengandung pesan moral yang baik
BalasHapusNice rikeee
BalasHapusCeritanya bagus dan menarik
BalasHapusPemilihan kata yang bagus, cerita dan pesan moral pun tersampaikan dengan sangat baik
BalasHapuskeren siii, semangat terus ya buat nulis sejarahnya!
BalasHapusbahasa yg digunakan sudah baikk
BalasHapusNilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut sudah baik, penggunaan bahasanya mudah dimengerti
BalasHapusKerenn
BalasHapusalur ceritanya mudah dipahamii,keren bangett
BalasHapusKereennn
BalasHapusBaguss ceritanyaaa, dari awal baca udah penasaran sama alur ceritanyaa kedepannya 👍👍
BalasHapusCerita nya keren bangettt
BalasHapusCeritanya bagus dan terdapat pesan moral👍
BalasHapusCeritanya sangat menarik
BalasHapusCeritanya sangat bagus dan menarik
BalasHapusceritanya sangat seruu
BalasHapusWiiiiii rame sekali ceritanya
BalasHapusbaguss
BalasHapusCeritanya sangat bagus dan terdapat pesan moral yang disampaikan.
BalasHapuswahhh ceritanya kereenn
BalasHapusCeritanya sangat menarik dan bagus
BalasHapusCeritanya sangat menarik
BalasHapusCeritanya seru dan menarik
BalasHapusCeritanya detail bangett, keren kakk
BalasHapusCeritanya bagus banget 🤩
BalasHapusCerita yang sangat menarik
BalasHapusCeritanya menarik, pengangkatan cerita dari gempa buminya sudah bagus
BalasHapus